Kamis, 18 Oktober 2012


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah suatu sistem bunyi ujar yang dipergunakan manusia untuk berkomunikasi. Bahasa terdiri dari dua objek kajian, yaitu bahasa dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujaran sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa yang penyampaiannya digunakan secara tertulis.
Dari cabang kajian lingustik ( Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik, dan Leksikologi )  dapat diperhatikan kajian ini lebih mengarah kepada data yang bersumber dari bahasa lisan. Pada kajian Fonologi lebih terarah pada persoalan dan proses bunyi yang diucapkan oleh alat ucap manusia. Pada kajian Morfologi lebih terarah pada persoalan struktur internal kata, persoalan susunan kata dan kalimat. Pada kajian Semantik lebih terarah pada persoalan makna kata. Pada kajian Leksikologi lebih terarah pada persoalan perbendaharaan kata.
Berbicara mengenai analisis kesalahan morfologi sebenarnya sudah lama diteliti oleh para ahli-ahli bahasa maupun ahli lingustik, baik yang bersifat preskriptif ( ketentuan resmi yang berlaku ) maupun yang bersifat deskriptif ( menggambarkan apa adanya ). Tetapi di dalam buku-bukunya masih memiliki kekurangan seperti: mengapa prefiks ber- dapat diimbuhkan; mengapa prefiks ber- tidak dapat diimbuhkan; mengapa prefiks ber- maupun prefiks me- sama-sama dapat dimbuhkan; prefiks ber- maupun prefiks me- sama-sama tidak dapat diimbuhkan; afiks gabungan memper- kan dapat diimbuhkan.
Sebagai bahasawan bahasa Indonesia sebaiknya kita lebih dulu mengetahui pengunaan afiksasi ( kata dasar ), pengunaan reduplikasi ( pengulangan kata ), penggunaan kata majemuk ( frase ), dan penggunaan klausa ( kelompok kata ) untuk membahas atau mengganalisis kesalahan-kesalahan dalam bidang kajian morfologi.
I.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam mkalah ini yaitu:
1.    Penggunaan afiksasi ( kata dasar )?                     
2.    Penggunaan reduplikasi ( pengulangan kata ) ?
3.    Penggunaan kata majemuk ( frase ) ?
4.    Penggunaan klausa ( kelompok kata ) ?
BAB II
  PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Morfologi
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti “bentuk” dan kata logi yang berarti “ilmu”. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti “ Ilmu yang mempeajari tentang bentuk-bentuk dan pembentukan kata”. Sedangkan di dalam kajian biologi morfologi berarti “ilmu mengenai bentuk-bentuk sel tumbuhan atau jasad-jasad mahkluk hidup”.
Berbicara mengenai pembetukan kata akan melibatkan komponen atau unsur pembentukan kata, yaitu morfem, baik morfem dasar ( bebas ) maupun morfem terikat            ( afiks dan dasar ), dengan berbagai alat proses pembentukan kata itu, yaitu afiks dalam proses pembentukan kata melalui proses afiksasi, duplikasi ataupun pengulangan dalam proses pembentukan kata melalui proses reduplikasi, penggabungan dalam proses pembentukan kata melalui proses komposisi. Jadi, ujung dari proses morfologi adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan dan makna sesuai dengan keperluan dalam satu tindak pertuturan.

II.2 Bentuk-bentuk Kesalahan Morfologi
Berdasarkan analisis kesalahan berbahasa, kesalahan dalam kajian Morfologi mencakup:
1.    Kesalahan Penggunaan afiksasi
afiksasi ialah proses penambahan kata dasar.
a.    Salah menentukan bentuk dasar
Contohnya: Perubahan                    rubah ( sebenarnya harus menjadi ubah )
  Menghimbau                    himbaw ( sebenarnya harus menjadi himbau )
                                      Terampil        trampil ( seharusnya menjadi terampil )

b.                   Fonem yang seharusnya diluluhkan tetapi tidak diluluhkan
Contohnya: Menertawakan ( Benar )                     me + tertawakan, bukan menjadi   Mentertawakan ( Salah )
                                      Pembelajaran       pe + pelajaran, bukan menjadi Pemelajaran
                                          Benar                                                                                 Salah
c.    Fonem seharusnya tidak diluluhkan tetapi diluluhkan
Contohnya:  Memfotokopi                    me + fotokopi, bukan menjadi Memotokopi
                         Benar                                                                                    Salah
 Memfitnah                     me + fitnah, bukan menjadi Memitnah
    Benar                                                                           Salah
 Memperoleh                   me + peroleh, bukan menjadi   Memeroleh
     Benar                                                                                  Salah

d.                                                                                                                          Penyingkatan ( me-, menge-, men-, menya- )
Contohnya: Menonton ( Benar ), sedangkan Nonton ( Salah )
                   Menyisir   ( Benar ), sedangkan Nyisir   ( Salah )
                   Mengelap  ( Benar ), sedangkan Ngelap ( salah )

e.                                                                                                                          Penggunaan Kombinasi
Contohnya:  Pasca sarjana ( Benar ), sedangkan Pascasarjana ( Salah )
                    Narasumber ( Benar ),  sedangkan Nara  sumber ( Salah )
 Dwiwarna    ( Benar ),  sedangkan Dwi warna     ( Salah )


2.                                                                                                                               Kesalahan Penggunaan reduplikasi
reduplikasi ialah pengulangan bentuk kata.
a.                                                                                                                      Berbahasa disebabakan kesalahan dalam menentukan bentuk dasar yang diulang.
Contohnya: mengemasi diualang menjadi mengemas-kemasi, seharusnya mengemas-ngemasi.
b.                                                                                                                     Kesalahan berbahasa terjadi karena bentuk dasar yang diulang seluruhnya hanyasebahagian yang diulangi.
Contohnya: Kaki tangan diulang menjadi kaki-kaki tangan, seharusnya diulang seluruhnya kaki tangan- kaki tangan.
c.                                                                                                                      Kesalahan berbahasa terjadi karena menghindari perulangan yang terlalu panjang. Contohnya: Orangtua bijaksana diulang hanya sebagian yakni, orang-orang tua bijaksana, seharusnya perulangannya penuh orangtua bijaksana-orangtua bijaksana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar